ogiexslasher blogs

↑ Grab this Headline Animator

Minggu, 11 Oktober 2009

Apakah Adam Manusia Pertama ?

Sekedar share informasi wacana berdasarkan kajian seseorang dari salah satu forum, karena isue ini saya anggap penting untuk muslim dalam rangka ma'rifat, pengenalan diri dan mencari Ridha Allah.

kesimpulannya kembali ke keyakinan masing2, saya cuma ingin tahu tanggapan muslim disini semua.

Berikut "kupasan" seseorang yg bernickname: "ber2Besar" membahas penciptaan manusia dan berhubungan dengan apakah Adam itu manusia pertama.

Quote:
Proses Penciptaan Manusia Bag I
Saya selalu beragumen bahwa Al Quran sesuai dengan logika dan tidak bertabrakan dengan ilmu pengetahuan, hal ini dapat saya buktikan dengan proses penciptaan manusia yang dikisahkan dalam Al Quran dan mudah – mudahan bermanfaat sebagai pencerahan.

Di dalam Al Quran terdapat surat – surat yang menceritakan tentang kisah proses penciptaan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan hal tersebut, yang nantinya akan kita susun, sesuai dengan urutan turunnya surat, dengan tujuan dapat mengetahui makna wahyu yang terkandung dalam Al Quran sekaligus mendapatkan metodelogi. Allah SWT menginginkan kita untuk mempelajari semuanya. Urutan surat tersebut sebagai berikut :

1. Al A’laq : Isyarat pertama keberadaan Al Insan ( Surat yang pertama berdasarkan urutan waktu diturunkannya)

“ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah “ (QS. Al A’laq :1-2).

Apabila ditelaah, ayat ini membuat kita mengenal Allah SWT dan memberikan misi pertama kepada Nabi Muhammad SAW, untuk merealisasikan tujuan-Nya, dan Allah SWT menyebutkan salah satu sifat yang dimilikinya yaitu Sang Maha Pencipta (Al Khaliq). Allah SWT menyebutkan keberadaan-Nya, mengenalkan siapa diri-Nya sekaligus mengajarkan Nabi Muhammad SAW secara mendalam bahwa manusia diciptakan dengan segumpal darah, hal ini merupakan informasi yang obyektif yang datang dari Allah SWT.

2. Al Muddasir : Isyarat pertama keberadaan Al Basyar (surat yang ke-4 berdasarkan urutan waktu diturunkannya)

Pada ayat – ayat ini tidak ada lafadz Al Insan akan tetapi menggunakan lafadz lain yang menunjuk pada makna tersebut yaitu Al Basyar.
“ In Hadza Illa Qaul al-Basyar” artinya : Ini tidaklah perkataan manusia (QS. Al Muddasir :25)
“Lawwahatun Li al-Basyar” artinya : (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia” (QS. Al Muddasir :29)
“Wama Hiya Illa Dzikra Li al Basyar” artinya : Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia. (QS. Al Muddasir :31)
“Nadziran Lil Basyar “ artinya : Sebagai ancaman bagi manusia. (QS. Al Muddasir :36).

Tidak diragukan keempat ayat di atas menunjukan pada mahluk yang bernama al-insan. Setelah penggunaan kalimat di atas kita tidak akan menemukan lagi penggunaan kalimat Al Basyar, sampai turunnya surat Al Qamar ayat ke-24. Dalam surat itu menceritakan kisah Nabi Soleh bersama kaum Tsamud, ketika beberapa dari kaumnya berkata : Abasyaran Minna Wahidan Nattabi’hu artinya : Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita ?.
Ayat ini merupakan isyarat yang menguatkan pemahaman pertama tentang proses awal penciptaan ada pada surat ke-7 yang diturunkan oleh Allah SWT.(sesuai dengan urutan turunnya ayat) yaitu Surat Al A’la.

3. Al A’la : “Yang diciptakan kemudian disempurnakan” untuk pertama kalinya. Surat ke-7 berdasarkan urutan waktu diturunkannya.

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Paling Tinggi, Yang Menciptakan dan Menyempurnakan (Penciptaan-Nya)”. (QS. Al A’la :1-2)
Dengan turunnya ayat ini, lahirlah proyek kedua dalam proses penciptaan manusia yaitu pada fase penyempurnaan. Akan tetapi yang disebutkan ayat di atas adalah proses penciptaan dan penyempurnaan secara mutlak dan tidak menyinggung apakah proses di atas dikhususkan untuk penciptaan Al Basyar atau Al Insan. Apabila kita telaah lebih lanjut, ayat ini telah mengerucut siapa yang dimaksud dalam ayat tersebut. Allah berfirman : “ Khalaqa Al Insan Min ‘Alaq” artinya Manusia diciptakan dari segumpal darah. Telah diisyaratkan dalam surat yang pertama.

4. Al Atiin : Isyarat umum penciptaan al insan: Dalam Sebaik – baiknya Penciptaan
Surat ke-27 berdasarkan urutan waktu diturunkannya
Allah berfirman :
* Laqad Khalaqna Al Insan Fi Ahsani Taqwin*; Tsumma Radadnahu Asfala Safilin* ; * Illa Alladzina Amanu Wa ‘Amilu ash Shalihati Falahum Ajrun Ghairu Mamnun*. Artinya : Dan Demi Kota (Mekkah) ini yang aman. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik – baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah – rendahnya (neraka), kecuali orang – orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus – putusnya.” (QS. Al Atiin :3 -6)

5. Al Qiyamah : Keberadaan Laki – Laki dan Perempuan yang menghasilkan cairan sperma dan indung telur (Surat yang ke-30 berdasarkan urutan waktu diturunkannya).
Allah SWt berfirman : “ Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban). Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya. Kemudian Allah menjadikannya sepasang laki – laki dan perempuan’. (QS. Al Qiyamah:36-39)
Ayat di atas secara tidak langsung telah menunjuk pada fase sebelumnya yang telah disebutkan dalam Al Quran “ Manusia diciptakan dari segumpal darah”. Fase ini merupakan fase terpancarnya air mani yang masuk ke dalam rahim perempuan, yang kelak setelah terbentuknya segumpal darah akan menghasilkan anak manusia laki – laki atau perempuan. Ilmu pengetahuan modern telah mengatakan bahwa jenis kelamin janin yang ada di rahim Ibu ditentukan oleh sperma bukan sel telur.
Al Quran sangat memperhatikan fase awal penciptaan mahluk hidup, sehingga di dalamnya kita dapat menemukan hubungan yang jelas antara kehidupan, kematian dan hari berbangkit.

6. Al Mursalat : Isyarat untuk cairan yang hina dan rahim yang sangat kuat. (Surat ke-32 berdasarkan urutan waktu diturunkannya)
“Bukankah Kami ciptakan kamu dari air yang hina, kemudian Kami letakan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktunya ditentukan, lalu Kami tentukan(bentuknya), maka Kami-lah sebaik – baik yang menentukan”. (QS. Al Mursalat: 20 –23).
Kata “mani” (Al Maniy) yang disebutkan dalam surat Al Qiyamah, disebutkan dalam surat Al Mursalat sebagai air yang hina (Maun Mahin), Namun atas Kekuasaan Allah SWT air yang hina menjadi manusia yang mulia dan sempurna.

(Sumber r. Abdul Shabur Syahin)

7. Qaaf : Isyarat untuk campur tangan Allah dalam proses penciptaan. (Surat ke-33 berdasarkan urutan waktu diturunkannya).
Turunnya surat ini untuk menegaskan keberadaan dan kekuasaan Allah pada proses penciptaan manusia. Allah berfirman : “ Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikan oleh hatinya, dan Kami lebih mengetahuinya daripada urat lehernya”.

8. Ath Thariq : Unsur-unsur yang menjadi materi penciptaan, seperti tulang punggung tulang rusuk, air yang memancar (mani). (Surat ke-35 berdasarkan urutan waktu diturunkannya).
Surat ini untuk menambahkan ilmu pengetahuan mengenai air yang memancar (air mani). Air yang keluar dari tulang punggung laki – laki dan tulang rusuk perempuan.

9. Shaad : Kisah penciptaan malaikat dan iblis untuk pertama kalinya (Surat ke-37 berdasarkan urutan waktu diturunkannya).
Surat Shaad ayat 71 – 85 (silahkan buka Al Quran) merupakan teks pertama yang menberikan gambaran kisah penciptaan manusia sampai akhir.
Ayat – ayat Al Quran yang turun setelah surat Shaad ayat 71-85 hanya merupakan ulasan dari kisah atau memberikan tambahan secara terperinci.

10. Al A’raaf : Penciptaan dan pembentukan kemudian adanya kisah Adam, malaikat dan iblis. Penyebutan Adam untuk yang pertama kali. (Surat ke-38 berdasarkan urutan waktu diturunkannya).
Apabila kita perhatikan kisah dalam surat (Shaad), tidak akan menemukan kata Adam, surat itu hanya menyebutkan bahwa mahluk Tuhan di dunia ini Al Basyar, kemudian setelah datangnya surat Al A’raaf dan menyebutkan kalimat Adam untuk pertama kalinya dalam wahyu Al Quran.
Surat (Shaad) dan surat ( Al A’raaf) turunnya secara berurutan, merupakan pelajaran agar kita dapat menelusuri perincian kisah tersebut.

Makna yang terkandung dalam surat (Shaad) :
1. Berita Allah kepada malaikat yang mengabarkan mereka tentang akan diciptakannya al Basyar.
2. Penciptaan al Basyar dari tanah – penyempurnaan – peniupan ruh Allah – Al Insan
3. Perintah Allah kepada para malaikat dan iblis untuk bersujud kepada mahluk ciptaannya setelah mengalami proses penyempurnaan.
4. Sujudnya malaikat secara keseluruhan
5. Penolakan iblis untuk bersujud karena kesombongannya
6. Mengklaim dirinya tercipta dari api lebih baik daripada Adam yang tercipta dari tanah
7. Terlemparnya iblis dari surga dan diberikan kesempatan sampai akhir.
8. Janji iblis untuk menggoda manusia kecuali orang – orang yang berbuat mukhlis, mereka tidak akan dapat digodanya
9. Allah janjikan neraka jahannam untuk manusia yang mengikuti jejak iblis.
Quote:
Proses Penciptaan Manusia (Bagian II)
(“Walaqad Khalaqna al Insana Fi Hamain Masnun”. “Wa al Jann Khalaqnahu Min Qablu Min Nar”.) artinya : Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (QS. Al Hijr:26-27)

(“Wa Idz Qala Rabbuka Li al Malaikati Inni Khaliqun Basyaran Min Hamain Masnun”. “Faidza Sawwaytuhu Wanafkhtu Fihi Min Ruhi Faqa’u Lahu Sajidin”.) artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduk kamu kepadanya dengan bersujud. (QS. Al Hijr:28-29)

Muncul pertanyaan darimanakah permulaan penciptaan ? jawabnya dari Al Basyar, setelah itu mulailah fase penyempurnaan, penggambaran dan peniupan ruh oleh Allah SWT, sehingga setelah melewati beberapa fase penyempurnaan, menjadi ciptaan Tuhan yang memiliki akal, bahasa dan agama.

Tahap penyempurnaan tersebut berlangsung dari generasi ke generasi, sehingga lambat laun menjadi al insan yang siap menerima memikul beban dan menerima amant Ilahi.

Untuk memperjelas (mempertegas) surat Al Hijr, Allah SWT berfirman dalam surat Al An’am : “ Huwa al Ladzi Khalaqakun Min Thin”. “ Tsumma Qadla Ajala Wa Ajalun Musamma ‘Indahu”. Artinya : Ia adalah Tuhan yang menciptakannya dari tanah. Kemudian ia telah menuliskan sebuah waktu dan waktu yang telah ditentukan oleh-Nya

Dapat kita lihat, dalam surat An’am telah menuliskan tentang dua waktu (Ajalaini- dari kata Ajal) dalam perkataan-Nya: “ Tsumma Qadla Ajala Wa Ajalun Musamma ‘Indahu”. Ayat ini menjadi perdebatan dikalangan ahli tafsir, yang dapat dirangkum menjadi 3 :
1. Yang dimaksud dengan ajal yang pertama adalah ajal kematian dan yang kedua adalah hari kiamat.
2. Yang dimaksud dengan ajal yang pertama adalah fase antara proses penciptaan mahluk hidup sampai hari berbangkit (alam barzah)
3. Yang dimaksud dengan ajal yang pertama adalah tidur dan kedua adalah kematian.
Tafsir Al Manar, yang dimaksud dengan ajal kedua adalah ajal seluruh mahluk (kiamat). Akan tetapi sebagian berpendapat yang dimaksud ajal di atas adalah ajal individu yang akan dialami oleh setiap manusia dan ajal umum yang akan menimpa dunia ini (kiamat).

Terlepas dari penafsiran – penafsiran di atas, bila dilihat dari kalimat “ajal” pertama menggunakan isim nakiroh (kata benda/noun yang belum diketahui sebelumnya) adalah ajal al Basyar yang mempunyai kehidupan lebih dulu dari al Insan. Sedangkan maksud “ajal” kedua adalah ajal yang akan dialami tiap manusia (individu) yang telah diberikan amanat dan kewajiban oleh Allah SWT. Jadi ajal pertama bersifat global sedangkan ajal kedua bersifat individu karena ia berhubungan sendiri secara langsung dengan amanat dan kewajiban yang diberikan oleh Allah SWT.

Turunlah firman Allah dalam surat Ghafir yang melukiskan hubungan antara debu(Al Turab), air mani (An Nuthfah) dan segumpal darah (Al Mudhghah). Allah berfirman :”Ia-lah yang telah menciptakan kamu dari debu, kemudian dari air mani, kemudian dari segumpal darah dan kemudian lahirlah seorang anak kecil”

Ayat ini menceritakan 2 fase penciptaan. Pertama fase penciptaan dari debu, Kedua fase penciptaan dari air mani. Kalau kita melihat secara harafiah antara fase pertama dan kedua tidak berhubungan sama sekali, namun Al Quran telah menyatukan dua fase itu dengan kalimat (Tsumma) yang bertujuan untuk menerangkan jarak waktu di antara keduanya.

Ditinjau dari sisi materi ayat itu,menggambarkan perjalanan panjang dan terus mengalami penyempurnaan, perbaikan bentuk dan peniupan ruh oleh Allah SWT.

Dipertegas dengan turunnya firman Allah : “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia jadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ruh(ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur “.(QS.As Sajdah: 7-9)

Mulanya al Insan diciptakan dari tanah, tepat seperti penciptaan al Basyar, kemudian Allah ciptakan keturunannya melalui proses kelahiran, Allah berfirman :”Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati yang hina (air mani)”.

Kemudian dimulailah proses penyempurnaan dan pada akhirnya ditiupkanlah ruh oleh Allah SWT. Maka setelah melalui sejarah yang begitu panjang jadilah al Insan.

Kalau kita cermati ayat dalam surat As Sajdah, Allah berfirman :”Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”.

Proses penciptaan manusia tersebut telah sempurna setelah melalui beberapa fase tersebut. Allah telah menciptakan al Basyar seperti anak kecil tanpa penglihatan, pendengaran dan akal pikiran, kemudian Allah memberikan kesempurnaan tersebut melewati waktu yang sangat panjang, tepatnya ketika Allah menghendaki untuk menambahkan kesempurnaan dan semua yang diperlukan oleh al Basyar untuk mencapai al Insan.


Proses Penciptaan Manusia (Bagian II)
Dalam Ensiklopedia Ilmu Pengetahuan halaman 417-418, tedapat nama – nama fase kehidupan geologi yang artinya planet bumi telah melalui waktu yang panjang dan dibagi dalam beberapa periode :

Periode Paleozoic (klasik):
- periode Precambrian 71.125.000.000 tahun lalu
- periode Cambrian 500.000.000 tahun lalu
- periode Ordovician 375.000.000 tahun lalu
- periode Silurian 335.000.000 tahun lalu.
- Periode Devonian 300.000.000 tahun lalu
- Periode Carboniverous 250.000.000 tahun lalu
- Periode Permian 205.000.000 tahun lalu

Periode Mesozoic (pertengahan)
- periode Triassic 170.000.000 tahun lalu
- periode Jurrasic 135.000.000 tahun lalu
- periode Cretaceous 95.000.000 tahun lalu

Periode Cenozoic (modern)
- periode Paleocene 800.000.000 tahun lalu
- periode Eocene 50.000.000 tahun lalu
- periodeOligocene 42.000.000 tahun lalu
- periode Miocene 25.000.000 tahun lalu
- periode Pliocene 8.000.000 tahun lalu
- periode Pleistocene 500.000 tahun lalu

Di setiap periode tersebut keberadaan manusia diasumsikan masih belum diketahui pasti, mungkin kalau dapat kita gambarkan keberadaannya masih dalam bentuk yang belum sempurna, sebagaimana binatang hanya menggunakan instingnya melalui beberapa indera.

Merujuk buku “ Gambaran Kehidupan Pra Sejarah” milik dua penulis Ustadz Dr. Zaglul an Najjar dan Ustadz Ahmad Dawud, pada halaman 147, mengatakan bahwa zaman es pada periode Pleistocene menghabiskan waktu selama 600.000 tahun, kemudian dibagi menjadi 3 fase:
- fase pertama 100.000 tahun
- fase kedua 300.000 tahun dan
- fase ketiga 200.000 tahun

Antara fase – fase tersebut terpisah oleh zaman yang disebut zaman mencairnya Es. Ketika gumpalan2x es mencair, bagian atas bumi tertutupi oleh tumbuhan yang berbentuk seperti tutup besar berwarna hijau. Di fase itu, hidupnya tumbuh-tumbuhan dan hutan – hutan, sebagaimana hidup pula binatang – binatang laut yang tak bertulang belakang dan siput darat. Seiring dengan itu bermunculan hewan yang bertulang belakang seperti hewan mamalia, serigala kutub dan tersebar sapi laut dibeberapa perairan serta hewan-hewan buas yang tersebar dihutan – hutan, beruang di gua – gua dan mamoth (gajah purba yang sangat besar).

Dalam buku “Gambaran Kehidupan Prasejarah “ halaman 148, menyebutkan bahwa telah diketemukan sisa-sisa fosil menyerupai bentuk manusia, seperti Australopethecus, yang hidup di zaman Pleistocene. Setelah itu barulah ditemukan bentuk manusia lain seperti Peking, Jawa, Heidelberg, Neanderthals, Rodethia, Swanscombe. Sisa – sisa fosil itu membuktikan bahwa manusia-manusia tersebut telah hidup sebelum sejuta tahun yang lalu dan mampu bertahan hidup sampai lima ribu tahun.

Bukti – bukti sejarah yang menelusuri tentang awal terciptanya manusia yang masih dalam bentuk yang tidak sempurna mencapai kesempurnaan sebagai mahluk ciptaan-Nya melalui fase yang sangat panjang.

Dapat saya simpulkan, bahwa apa yang tertulis di dalam Al Quran telah mengenai proses penciptaan manusia, sesuai dengan ilmu pengetahuan, bahkan ilmu pengetahuan yang mengikuti Al Quran, bukan sebaliknya. Hal ini sekaligus mementahkan Teori Darwin.
Quote:
Sepanjang yang saya ketahui, Al Qur’an tidak pernah menyebut Adam sebagai manusia pertama. Demikian pula istrinya, bukanlah manusia kedua yang diciptakan setelah Adam.

Banyak ayat Al Qur’an yang jusru memberikan indikasi kuat bahwa Adam dan hawa adalah salah satu saja dari sekian banyak umat manusia yang sudah ada pada waktu itu. Salah satu indikasi kuat terdapat pada ayat berikut.

QS. Al A'raaf (7): 11
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu sekalian, lalu Kami bentuk tubuh kalian, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam"; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.

Ayat di atas dimulai dengan kalimat ‘menciptakan kamu sekalian, lalu kami bentuk tubuh kalian’. Artinya, waktu itu Allah sudah menciptakan banyak manusia di muka Bumi. Baru kemudian memerintah para malaikat untuk bersujud kepada Adam.

Sayangnya, dalam kitab terjemahan bahasa Indonesia kata kum itu ditafsiri sebagai Adam. di sebelah kata ‘kamu’ diberi penjelasan dengan kata dalam kurung - (Adam). Padahal kita tahu bahwa kum adalah bermakna jamak - kalian semua.

Ini semakin jelas kalau kita baca ayat sebelumnya, berikut ini. Bahwa yang dimaksud dengan ‘kum’ itu adalah bangsa manusia secara keseluruhan. Spesies manusia.

QS. Al A'raaf (7): 10
Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.

Dari 2 ayat yang berurutan di atas, kita bisa memperoleh kesimpulan bahwa Allah terlebih dahulu menciptakan bangsa manusia di muka Bumi, dengan segala sumber penghidupannya. Dan, kemudian memilih salah satu di antaranya sebagai khalifah di muka Bumi. Dialah Adam. Ditandai dengan perintah kepada malaikat untuk bersujud kepadanya.

Kalau Adam memang manusia pertama, ayatnya tidak akan berbunyi demikian. Diawalnya pastilah Allah mengatakan kepada Adam dalam bentuk tunggal: “Walaqad khalaqnaka - Dan sungguh telah Kami ciptakan kamu (Adam)...” Tapi, tenyata menggunakan kum.

Bukti lain tentang Adam bukan manusia pertama adalah ketika Allah berkata kepada malaikat mau menjadikan Adam sebagai khalifah. Informasi itu ada pada ayat berikut.

QS. Al Baqarah (2): 30
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Ayat ini sering dipakai oleh sebagian besar kita untuk menjelaskan bahwa Adam adalah manusia pertama. Karena di sana digambarkan dialog antara Allah dengan malaikat, untuk menjadikan Adam sebagai khalifah di muka Bumi. Padahal justru ayat ini menegaskan bahwa Adam bukanlah manusia pertama. Melainkan adalah salah satu manusia yang terpilih dari sekian banyak manusia yang sudah ada di jaman itu.

Ada dua hal yang menunjukkan itu. Yang pertama, adalah kata inni ja'ilun fil ardhi khalifah – “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.

Kalimat tersebut tidak menggunakan kata ‘menciptakan’ (khalq) melainkan menggunakan kata ‘menjadikan’ (ja'ala). Jadi bukan mengadakan dari ‘tidak ada’ menjadi ‘ada’, melainkan ‘memilih’ dari yang sudah ada menjadi khalifah alias pemimpin bagi umat manusia di jaman itu. Kata ‘memilih’ itu lebih jelas lagi pada ayat lain, berikut ini.

QS. Ali Imran (3): 33
Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)

Allah menggunakan kata isthofaa yang secara eksplisit berarti ‘memilih dari yang sudah ada’. Dan lebih jelas lagi, dalam ayat itu Allah membandingkan dengan nabi-nabi lainnya seperti Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran. Mereka semua adalah orang-orang yang terpilih pada zamannya.

Dan masih banyak lagi ayat yang memberikan kepahaman bahwa Adam bukanlah manusia pertama di muka Bumi. Meskipun pada beberapa ayat, seringkali agak membingungkan jika dipahami secara sebagian. Ayat-ayat itu memiliki penjelasan di ayat lainnya.
jadi dia berpendapat : Nabi Adam Manusia Sempurna yang pertama di muka bumi,...bukan manusia pertama, atau sudah ada manusia sebelum adam tapi belum sempurna, masih berproses.

Bagaimana pendapat muslim disini ?