ogiexslasher blogs

↑ Grab this Headline Animator

Senin, 04 April 2011

Mati suri 2 jam melihat alam kubur dan setelah sadar hafal alquran 30 juz

Masyarakat Bengkalis dihebohkan dengan meninggalnya seorang gadis bernama Azlina (25)
saat berobat di Mahkota Medical Center, Melaka, namun setelah dua jam tak bernafas ia
akhirnya hidup kembali. Apa saja kisah yang dialami Azlina saat ia mati suri? Cerita mati
surinya warga Desa Pematang Duku, Kecamatan Bengkalis benar-benar menjadi pembicaraan
hangat, bahkan berita ini sampai ke Pakning dan kecamatan lainnya. Berbagai versi kematian
pegawai honor Disperindag Pemkab Bengkalis inipun muncul. Bahkan masyarakatpun
berbondong-bondong mendatangai kediamannya. Tak hanya warga, pejabatpun tak luput
ingin tahu cerita pasti. Bahkan kemarin Ny Fauziah Syamsurizal datang ke rumah Azlina yang
akrab di panggil Iin itu.
Sri Junjungan Televisi (SJTV) milik Pemkab Bengkalis menayangkan siaran langsung
wawancara dengan Iin, ada keanehan yang terjadi. Saat itulah kepercayaan Riau Pos dan
rekan-rekan media lainnya timbul akan kebenarannya cerita mati suri ini.
Keanehan yang dimaksud adalah, ketika siaran langsung yang juga disaksikan oleh
masyarakat lewat layar monitor yang dipasang SJTV itu usai. Para kru kemudian mematikan
semua LCD yang ada. Namun anehnya LCD tersebut tak mau mati, justru muncul di layar
monitor sesosok tubuh berpostur besar seperti laki-laki. Kendati gambar yang muncul sedikit
samar, namun jelas terlihat sosok itu berambut panjang dan bertanduk. Namun wajahnya tak
kelihatan. Para wartawan yang hadir di ruang itu pada ketakutan. Namun sempat mengambil
foto sosok itu. Kru SJTV ada yang menggigil dan menangis.
Foto itu diperlihatkan kepada Iin, yang waktu itu masih berada di areal SJTV. Ia mengatakan
jika sosok itu adalah jin dan ia meminta agar foto yang diambil tersebut untuk dihapus saja.
Namun Riau Pos yang turut sempat mengabadikan gambar itu, ketika satu jam berikutnya
hendak melihat lagi, ternyata foto itu terhapus sendiri.
Meninggal Dua Jam
Azlina adalah seorang anak yatim dari keluarga kurang mampu. 3 tahun belakangan ia
menderit penyakit kelenjar hiperteroid (gondok). Kendati penyakit yang dideritanya sudah
akut, Azlina hanya bisa pasrah, karena ketidakadaaan biaya berobat. Namun pada Kamis, 24
Agusutus 2006 lalu, atas kesepakatan sanak keluarga, Azlina dibawa berobat ke Mahkota
Medical Centre (MMC) Melaka.
Esok paginya, dokter MMC memeriksa Azlina. Satu-satunya jalan untuk penyembuhan adalah
dengan jalan operasi. Namun dokter mengatakan pula jika operasi baru dilakukan 3 bulan
mendatang, mengingat tekanan darahnya cukup tinggi.
Usai diperiksa, rupanya kondisi Azlina makin menurun. Sektar pukul 02.00 waktu setempat,
alat detak jantung yang ada di layar monitor sudah menunjukkan garis lurus, yang berarti
jantungnya sudah tak berdetak lagi. Paman Azlina, Rustam Effendi yang turut
mendampinginya sudah pasrah, jika ponakan sudah meninggal. Namun saat ia menanyakan
pada dokter apakah Azlina benar-benar sudah meninggal, dokter hanya diam. Namun terus
saja melakukan berbagai upaya termasuk memasang alat pacu jantung.
Kendati sudah tak bernafas, dokter tetap belum mau memberikan pernyataan Azlina
meninggal. Dan selama 2 jam terus-menerus melakukan pacu jantung. Ajaib, tiba-tiba
jantung Azlina berdetak, kendati lemah. Dokterpun buru-buru membawanya ke ruang ICCU.
Selama 2 hari ia di ruang ICCU dalam keadaan koma.
Setelah mendapat perawatan yang intensif, kondisi Azlina berangsur-angsur pulih. Dan
karena belum bisa dioperasi, keluarganya pun membawanya pulang ke Bengkalis.
Berada di Alam Barzah
Riau Pos memang tak tahu persis, apakah kondisi seperti itu bisa dikatakan dengan mati suri.
Namun ada cerita di balik tak bernafasnya Azlina selama 2 jam dan koma selama dua hari
itu. Jika disimak benar-benar cerita yang terkesan memang tidak dikarang-karang oleh Azlina
itu, setidaknya menyadarkan kita akan alam lain yang bakal kita jalani kelak.
Menurut Azlina, ia sangat merasakan saat nyawanya dicabut dari kaki kanan, sakitnya seperti
badan dikuliti. Ketika arwahnya sudah berada di alam lain, ia melihat jasadnya dan pamannya
serta dokter di ruang Rumah Sakit. Tak lama setelah itu ia kemudian dibawa oleh dua
malaikat. Kepada malaikat, Azlina minta ingin bertemu dengan ayahnya.
Atas permintaan Azlina itu, ia kemudian dipertemukan dengan seorang laki-laki muda
berparas ganteng seusia 17 tahun. Kepadanya dikatakan kalau pria itu adalah ayahnya.
‘’Saya tak percaya karena waktu meninggal ayah saya berumur 54 tahun, tapi melaikat
mengatakan jika itu adalah ayah saya,’’ cerita Azlina.
Pada pertemuan di alam gaib itu, ayahnya menyuruh Azlina untuk kembali lagi ke dunia,
karena belum waktunya Azlina berada di alam barzah. Setelah bertemu ayahnya, cerita
Azlina lagi, ia dibawa ke suatu tempat yang di situ ditemuinya wanita-wanit berjilbab dan
jumpa seribu malaikat. Di tempat itu, ia didudukkan pada sebuah kursi yang sangat empuk
yang kata Azlina keempukan kursi itu sebanding dengan 8 busa yang ada di dunia.
Saat duduk di kursi empuk itu, di sebelahnya ada seorang wanita yang wajahnya mirip wajah
Azlina. ‘’Waktu saya tanya siapa dia, wanita itu mengatakan jika ia adalah amal jariyah saya.
Bersama wanita dan 2 malaikat, saya terus dibawa melihat-melihat, dan kali ini saya dibawa
ke suatu tempat penyiksaan. Di tempat itu, ada 10 orang laki-laki yang disiksa. Ada yang
memakai pakaian compang-camping , badannya bernanah dan bau busuk, ada yang memikul
besi seberat 100 ton dengan terbungkuk-bungkuk. Setelah tanya tanyakan kenapa ia lakilaki,
rupanya ia suka membunuh dan dukun santet,’’ cerita Iin.
Terus lanjut Azlina, ada pula ustad yang dihantam dengan benda panas dan lahar panas,
rupanya ustad itu sudah berzina dengan isteri orang. Ada pula yang ditusuk dengna pisau
hingga tembus sebanyak 80 kali. Orang itu suka membunuh tapi tak pernah merasa
bersalah.
‘’Bermacam-macam penyiksaan saya saksikan.Saya kemudian dibawa lagi membawa malam
yang sangat gelap. Saking gelapnya saya tak kenal dengan malaikat yang membawa saya
dan amal jariyah yang menemani saya. Ketika saya melangkah dua langkah saya dengar
orang berzikir. Dan tiba-tiba saja dileher saya sudah tergantung sebentuk rantai yang setelah
saya pegang ternyata tasbih sebanyak 99 butir. Ketika saya tanyakan kepada amal jariyah
saya, dikatakan jika Allah menyuruh saya berzikir selama dalam perjalanan dengan tasbih
itu,’’ tambahnya.
Di tempat gelap itu, kata Azlina ia melangkah lagi, pada langkah ke 7 ia melihat sebuah
benda berbentuk tepak sirih yang dari celahnya memantulkan cahaya dan dibelakang benda
itu ada tulisan Arab Qusnul Qotimah. Oleh Azlina cahaya itu kemudian diambilnya dan
menyapukan ke wajahnya.
‘’Setelah 10 hari perjalanan, saya dengar suara azan yang suaranya sangat beda dengan
azan yang biasa saya dengar, lembut sekali. Saya kemudian dibawa ke Masjid Nabawi dan
melihat makam Nabi Muhammad. Di makam Nabi itu ada pintu kecil dan saya melihat
seseorang memberi makan anak-anak fakir miskin. Tiba-tiba cahaya yang sebelumnya
diambil dari benda berbentuk tepak sirih dan disapu ke muka saya, memantul dari tangan
saya untuk kemudian menjadi cahaya yang besar,”sebutnya.
Dari cahaya itu lanjutnya, kemudian muncul sesosok manusia berwajah ganteng kulit kuning
langsat, ”Matanya sayu pandangannya luas terbentang. Raut mukanya seperti orang Asia,
tapi wajahnya tak kelihatan dengan jelas. Setelah saya Tanya sama amal jariyah saya,
dijawab jika Qusnul Qotimah menerangi makam Nabi. Saya dikatakan mendapat hidayah dan
safaat dari Allah,’’ urai Azlina lagi.
Dari tempat itu, sambung Azlina lagi, ia dibawa lagi ke suatu tempat, dimana ia melihat
jutaan manusia menangis disiksa dan minta kiamat dipercepat. Meskipun antara ia berdiri
dengan orang-orang yang disiksa itu hanya berjarak 5 meter, namun ia tak dapat menolong.
Selama dalam perjalanan itu pula ia dapat menghafal Alquran sebanyak 30 juz dan Katam
sebanyak 3 kali, membaca Yassin 1.000 kali dan membaca Shalawat untuk 1.000 nabi.
‘’Rasanya perjalanan yang saya lalui dari sepanjang Arab Saudi atau seperti dari Sabang ke
Merauke,’’ ujar Azlina yang mengaku ketika ia belum sakit juga pernah melihat cahaya saat
melakukan salat tahajud dan cahaya itu juga disapukannya ke mukanya seperti yang
dilakukan ketika ia dibawa berjalan.
Banyak Perbedaan
Banyak perbedaan yang terjadi pada diri Azlina alias Iin setelah dan sebelum ia mati suri.
Perbedaan tingkah laku itu sangat dirasakan, terutama bagi keluarga terdekat yang tahu
persis akan keseharian Iin.
Seperti dikatakan pamannya Rustam Effensi SAg, sebelum ini sosok Iin adalah pribadi yang
pendiam dan suka grogi jika berjumpa banyak orang. Soal ibadah, ia juga biasa-biasa saja.
Hanya saja ia rajin salat tahajud dan membaca Alquran. Tapi bukan hafal Alquran.
Tapi setelah kejadian ini, seperti juga yang Riau Pos saksikan sendiri, ia bercerita penuh
percaya diri. Ceritanya juga tak terkesan dibuat-buat. Bahkan selama beberapa jam siaran
langsung di SJTV bicaranya sangat lancar berdakwah. Padahal sebelumnya, ia tak terlalu
paham apa-apa yang diuraikannya kemarin itu. Ia berdakwah seperti lazimnya ustadzah.
‘’Selama ini ia bukanlah hafal Alquran. Tapi sekarang ia hafal Alquran. Percaya dirinya juga
sangat tinggi, dan tidak malu-malu seperti sebelumnya. Kulitnya juga berbeda dari
sebelumnya,’’ ungkap Rustam sembari mengatakan jika sebelumnya kulit Azlina sedikit gelap.
Namun yang dilihat sekarang, putih bersih bercahaya.
Terlepas percaya atau tidak akan kejadian seperti yang diceritakan Azlina dan keluarganya
itu, namun jika kita berhadapan langsung dengan Azlina, dan mendengar ceritnya, kita pun
jadi merinding. (Sumber: ikikatta)

0 komentar: